Efek Sering Bermain Smartphone Sebelum Tidur

 https://www.gottingmahe.my.id/2025/05/efek-sering-bermain-smartphone-sebelum.html

Sering Bermain Smartphone Sebelum Tidur Bisa Jadi Gejala Insomnia

Fakta telah membuktikan bahwa bahkan sebelum tidur, smartphone selalu menjadi partner terbaik kami. Kami masih membaca situs berita atau berhubungan melalui media sosial, jadi kami sering begadang. Kemudian saya tertidur dengan ponsel saya, bahkan karena terlalu lucu untuk tertidur. Akankah dampak penggunaan smartphone semacam itu berbahaya bagi kita?

Banyak informasi yang beredar, dan salah satu dampak dari penggunaan smartphone di malam hari adalah insomnia dan kesulitan lain untuk tertidur. Secara teori, layar smartphone memancarkan banyak cahaya biru, membuat otak kita mengira sedang siang hari, jadi bukan waktunya tidur.

Pada Studi yang dipublikasikan pada jurnal Organizational Behavior and Human Decision Process, menunjukkan bahwa cahaya biru di layar smartphone juga akan mengganggu pelepasan melatonin, hormon yang dapat membantu tubuh tidur. Ini akan membuat saraf tetap terjaga.

Harvard Medical School juga mengungkap penelitian lain tentang gangguan tidur yang disebabkan oleh smartphone. Cahaya di layar akan mengganggu jam biologis, sehingga merusak kualitas tidur. Efek lain dari penggunaan smartphone adalah adanya radiasi elektromagnetik dalam jangkauan gelombang mikro, yang mempengaruhi gerakan mata cepat (REM) tiduron (REM), sehingga mencegah aliran darah ke otot dan memastikan tidur.

Namun apakah semua teori tentang gangguan tidur yang disebabkan oleh smartphone benar?

Kekhawatiran ini terus menyebar, dan kami semakin yakin bahwa efek menggunakan smartphone bisa jadi menjadi penyebab utama gangguan tidur. Jelas sekali, ini tidak sepenuhnya benar. Ini tidak berarti bahwa melihat layar smartphone sebelum tidur tidak akan mempengaruhi kualitas tidur kita. Namun, ini bukanlah penyebab utama gangguan tidur, dan dampaknya kecil.

Data dan dukungan para profesional yang mengungkap mitos gangguan tidur akibat smartphone semakin memperkuat teori ini. Mereka menemukan bahwa cahaya dari layar seukuran smartphone tidak memengaruhi kualitas tidur kita, juga bukan merupakan faktor utama dalam gangguan tidur.

Jerome Siegel dari University of California, Los Angeles dan Gandhi Yetish dari University of New Mexico mempublikasikan penelitian biologis mereka, membuktikan bahwa smartphone bukanlah penyebab utama gangguan tidur yang sederhana. Mereka membandingkan komunitas industri milenial dengan komunitas pedesaan yang tidak terpengaruh oleh teknologi.

Penelitian tersebut melibatkan suku Hadza di Tanzania utara, Ju /hoansi San di Gurun Kalahari dan Tsimane di Bolivia. Tak satu pun dari mereka terkena cahaya layar smartphone. Faktanya, komunitas ini sebagian besar terdiri dari para pemburu. 
 
94 orang secara sukarela menggunakan perangkat tersebut untuk merekam pergerakan dan penyumbatan pembuluh darah. Monitor kelembaban dan suhu juga dipasang di tempat mereka sebelumnya tidur untuk melacak berbagai variabel yang dapat memengaruhi kualitas tidur mereka.

Setelah mengumpulkan data studi lengkap selama 1.165 hari, mereka menemukan bahwa rata-rata waktu tidur untuk kelompok ini adalah sekitar 6,5 jam sehari. Di saat yang sama, masyarakat khususnya kaum milenial mendapatkan rata-rata 7,5 jam tidur per malam. 
 
Di antara anak muda tersebut, sebanyak 71% biasanya menggunakan smartphone untuk tidur. Ini secara efektif membuktikan bahwa ponsel pintar dan teknologi pemancar cahaya lainnya adalah variabel yang memiliki dampak paling kecil terhadap gangguan tidur manusia.

Hasil penelitian ini tidak menunjukkan bahwa teori yang diterbitkan lainnya tidak sepenuhnya benar. Namun, itu hanya menegaskan bahwa ada banyak faktor yang memengaruhi kualitas tidur seseorang. Dan kita akan merasa sedikit tenang, karena alasan utama kualitas tidur yang buruk bukan disebabkan oleh smartphone.